Tampilkan postingan dengan label Kisah Anak SMP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Anak SMP. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Maret 2011

Permen [Gula Gula]

Cerita ini diriwayatkan oleh Arun Gandhi, cucu dari Mohandas K. Gandhi .......

"Ketika saya berumur enam tahun, kami diundang untuk mengunjungi kakek di sebuah ashram ia mendirikan di mana orang tinggal bersama dalam antikekerasan," kata Arun "Sebuah pasangan muda tinggal di sana dengan anak mereka 6 tahun.. Anak ini memiliki luar biasa gigi manis-kalau dia tidak mendapatkan permen ia akan mengambil sendok gula Para orangtua membawa anak itu ke dokter karena ia sakit dari gula Dokter mengatakan tidak ada gula lagi;.. tidak ada permen lagi untuk Anda dan tidak ada argumen. Orang tua masih makan coklat manis dan permen setiap hari dan anak itu akan mengambil permen ketika tidak ada yang melihat. "

Mengambil anak mereka untuk Gandhi putus asa, orang tua dari anak dengan gigi manis disuruh membawanya kembali dalam 15 hari. Mereka pergi, bertanya-tanya mengapa ia tidak dapat berbicara dengan anak mereka segera.

"Mereka pergi dan kembali dan kakek berbicara dengan anak itu kurang dari satu menit," kata Arun, "setelah waktu dia berjanji akan menyerah permen. Orangtuanya terperanjat. Mereka bertanya kakek apa mukjizat yang dilakukan. Dia berkata, 'Itu bukan mukjizat. Saya harus meminta dia untuk menyerah permen jadi aku katakan padanya bahwa saya telah menyerah permen dan aku tidak akan makan apa-apa sampai Anda menyerah permen-akan Anda menyerah permen 'anak itu terus sumpahnya dan saya belajar bahwa ketika orangtua peduli begitu? banyak, untuk membuat semacam pengorbanan, anak-anak tidak perlu memaksa. "

Jadi, ia datang kembali ke pepatah lama ... Praktek terlebih dahulu sebelum Anda memberitakan!

translate from the candy http://emotivation-stories.blogspot.com/

Rabu, 16 Maret 2011

KISAH POHON APEL

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan seorang anak laki-laki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buah-buahnya dan tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak laki-la...ki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak tersebut. Waktu terus berlalu dan anak laki-laki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-mainlah lagi denganku,” pinta pohon apel itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi, aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya”. jawab anak laki-laki itu.

Pohon apel itu menyahut, “Aduh, maaf aku pun tak punya uang, tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak laki-laki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak laki-laki itu tak pernah datang lagi. Pohon apel itu pun menjadi sedih.

Suatu hari anak laki-laki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.

“Aku tak punya waktu, karena harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” jawab anak laki-laki itu.

“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak laki-laki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak laki-laki itu senang Tapi anak laki-laki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak laki-laki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.

“Aku sedih, aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” kata anak laki-laki itu.

“Aduh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak laki-laki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak laki-laki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemuian. “Maaf anakku, aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” kata pohon apel itu.

“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak laki-laki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel meneruskan.

“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak laki-laki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang. Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” kata anak laki-laki.

“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua sepertiku ini adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak laki-laki itu pun berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

````````````````````````````````````````````````````````````````````````````

Apa yang bisa kita petik dari KISAH POHON APEL tersebut ? Pohon apel itu diibaratkan sebagai orang tua kita. Ketika kita masih kecil, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tapi orang tua kita tidak pernah marah dan malahan akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Kamu mungkin berpikir bahwa anak laki-laki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi mungkin seperti itu pulalah cara kita memperlakukan orang tua kita. Cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, bahwasanya kita mencintainya, dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Dikutip dari artikel motivasi. Searching di google.

Jumat, 11 Maret 2011

Iri Tiada Henti

Assalamu 'alaikum...

Ada seorang pemecah batu yang melihat seorang kaya. Iri dengan kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi orang kaya. Ketika ia sedang bepergian dengan keretanya, ia harus memberi jalan kepada seorang pejabat. Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang pejabat.

Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik matahari. Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari.

Ketika ia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya. Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan.

Ketika ia sedang berarak di langit, angin menyapunya. Iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba ia berubah menjadi angin.

Ketika ia sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung. Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung.

Ketika ia sedang bertengger di gunung, ia melihat ada orang yang memecahnya. Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun dari lamunannya sebagai pemecah batu.

Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu.

***

Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini baik-baik saja kok... sampai Anda mulai membanding-bandingkan.

Kata Sang Guru: "Rasa berkecukupan adalah kekayaaan terbesar." Pengejaran keuntungan, ketenaran, pujian, dan kesenangan bersifat tiada akhir karena roda kehidupan terus berputar, silih berganti dengan kerugian, ketidaktenaran, celaan, dan penderitaan. Inilah delapan kondisi duniawi yang senantiasa mengombang-ambingkan kita sepanjang hidup.

Kebahagiaan terletak pada kemampuan untuk mengembangkan pikiran dengan seimbang, tidak melekat terhadap kondisi duniawi.

Boleh-boleh saja kita menjadi kaya dan terkenal, namun orang bijaksana akan hidup tanpa kemelekatan terhadap kondisi duniawi.

Salaam...

Arsip:
http://menggapairidho-nya.blogspot.com/2011/03/iri-tiada-henti.html

Selasa, 01 Maret 2011

SALEH ITU PANTAS

Oleh: Ahmad Tohari

Suatu hari dulu, Paman bertanya kepada saya dengan wajah serius. "Mengapa dari lima anakmu hanya satu yang kamu masukkan ke sekolah agama? Apakah kamu tidak ingin yang empat menjadi anak saleh?" Pertanyaan itu membuat saya agak tergagap. Apalagi mata Paman terus menatap saya seakan menuntut agar saya segera memberinya jawaban.

Mungkin karena daya kejutnya. Atau karena sebenarnya saya sama dengan kebanyakan orangtua yang jelas ingin semua anak saya menjadi manusia yang saleh dan shalihah. Jadi pertanyaan Paman adalah sesuatu yang tak terduga.

"Paman, setiap orang ingin punya anak-anak yang saleh dan shalihah. Saya juga demikian," jawab saya. "Kalau begitu mengapa empat anakmu kamu masukkan ke sekolah umum? Bagaimana mereka bisa menjadi anak saleh?"

Pertanyaan lanjutan ini pun membuat saya tergagap. Tapi sekaligus memperjelas situasi yang sedang saya hadapi. Rupanya Paman berangkat dari dasar pemikiran bahwa kesalehan hanya berkaitan dengan perilaku keagamaan. Agaknya, menurut Paman, orang saleh adalah orang yang rajin dan taat menjalankan ritus-ritus keagamaan. Dan watak itu hanya bisa dibangun melalui pendidikan agama yang formal.

"Paman, saya akan memberi pendidikan agama kepada mereka di rumah. Juga dengan bimbingan berperilaku serta bacaan-bacaan. Doakan saja agar anak-anak saya kelak bisa memenuhi harapan Paman." Paman tidak bertanya lagi. Tapi saya tahu dia kurang puas. Wajahnya mengatakan demikian. Bahkan akhirnya saya menyadari bahwa Paman tidak sendiri.

Masyarakat umumnya memahami kesalehan hanya berkaitan dengan ketaatan kepada ritus. Dalam istilah KH Mustofa Bisri, inilah kesalehan atau kepantasan ritual yang selalu diutamakan dalam pengamalan agama namun kurang diimbangi dengan kesalehan lain yakni kesalehan sosial.

Dalam suatu kesempatan, KH Mustofa Bisri duduk menjadi panelis bersama Drs Kholik Arief MSi yang kini menjabat sebagai bupati Wonosobo. Jateng. Kiai seniman bertemu santri intelektual yang birokrat. Tapi juga bisa dikatakan, Gus Mus adalah guru bagi Arief. Apalagi yang terakhir ini adalah anak seorang kiai. Dan entah bagaimana mulanya pembicaraan mereka merambah ke masalah tadi: Kesalehan.

"Dalam bahasa Arab, saleh berarti pantas," ujar Gus Mus. "Jadi kalau Mas Arief melakukan shalat Duha pada saat dia harus melakukan tugasnya sebagai bupati, itu tidak pantas. Itu tidak saleh!"

Mendengar penjelasan Gus Mus, banyak orang menegakkan kepala. Saya ikut terpana karena merasa mendapat sesuatu di luar kerangka berpikir yang lazim. Saya sebut demikian karena kita terbiasa berpikir, seorang bupati yang rajin melakukan shalat Duha, tak peduli pada jam kerja yang sibuk, adalah bupati yang saleh.

Mungkin kita juga tidak akan berbuat apa-apa bila ada dokter misalnya, meninggalkan pasien untuk mendengarkan ceramah keagamaan karena kita menganggap dokter tersebut sedang menjalankan kesalehan. Namun, dengan penjelasan Gus Mus itu kita diingatkan bahwa saleh berarti pantas.

Kesalehan adalah kepantasan, kepatutan. Jadi pelayan publik seperti bupati atau dokter yang saleh adalah mereka yang selalu memberi pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat dalam bidang yang menjadi tugas mereka.

Dan kesalehan dalam keagamaan? Jawabnya ada pada riwayat ketika Kanjeng Nabi menegur seorang pemuda yang menghabiskan waktu terlalu lama di siang hari untuk berdzikir di masjid. Pastilah Kanjeng Nabi tidak akan menegur apabila beliau menilai yang dilakukan oleh pemuda itu termasuk salah satu kesalehan beragama. Jadi dalam melakukan ibadah pun saleh berarti pantas, sepantasnya, sepatutnya.

Kembali ke pertanyaan Paman. Saya tidak tahu apakah Paman ingin anak-anak saya menjadi anak ''saleh" seperti pemuda yang ditegur oleh Kanjeng Nabi itu. Mudah-mudahan tidak. Tapi saya yakin Paman lebih suka kelima anak saya masuk pondok atau menempuh pendidikan agama sampai ke perguruan tinggi untuk mencapai kesalehan.

Sepertinya Paman tidak akan menganggap empat anak saya termasuk saleh meskipun nanti mereka menjadi sarjana-sarjana ilmu umum yang berlaku pantas dalam menjalankan profesinya, serta mau berdoa untuk kedua orangtua. Ah, Paman; meski begitu semoga Paman sekarang berada dalam rahmat Allah di alam kubur. Amin.

Arsip: http://muhammad-abid.blogspot.com/2008/09/saleh-itu-pantas.html

Minggu, 27 Februari 2011

KISAH KAISAR DAN BENIH

KISAH KAISAR DAN BENIH

Ada seorang kaisar di Cina. Ia sudah tua dan merasa sudah waktunya untuk memilih seorang pengganti. Namun ia tidak langsung memilih dari anak-anaknya atau pembantunya tetapi menempuh cara yang berbeda. Ia memanggil semua orang muda di negeri itu. Ia berkata, “Sudah saatnya saya turun tahta dan memilih kaisar baru. Saya memutuskan untuk memilih salah satu dari kalian.”

Kaisar itu melanjutkan, “Saya akan memberikan pada kalian masing-masing satu benih tanaman. Ini satu benih yang khusus. Pulanglah dan tanamlah benih itu dan peliharalah. Kembalilah setahun lagi dan tunjukkan hasil pekerjaan kalian. Dari tanaman yang kamu bawa saya akan memilih kaisar berikutnya.”

Ada seseorang bernama Ling yang juga ada di situ. Seperti lainnya ia membawa pulang sebuah benih. Ia pulang ke rumah dan menceritakan semuanya kepada ibunya. Ibunya membantunya menyiapkan sebuah pot tanaman dan tanah yang subur, dan Ling pun menanam benihnya dan menyiraminya setiap hari. Setiap hari Ling memeriksa apakah benihnya telah tumbuh.

Setelah tiga minggu, anak-anak muda di situ mulai membicarakan tanamannya yang sudah mulai tumbuh. Namun benih Ling tak pernah tumbuh. Tiga minggu, empat minggu, lima minggu berlalu. Tetap tak ada hasil apa-apa.

Setahun akhirnya berlalu dan anak-anak muda itu kembali berkumpul di istana kaisar. Mereka membawa tanaman mereka yang telah tumbuh dengan bunga yang indah-indah. Ling menaruh potnya yang kosong di lantai dan orang-orang menertawakannya.

Kaisar pun masuk dan memeriksa tanaman-tanaman itu. Ling bersembunyi di belakang. Kaisar berkata, “Sungguh tanaman yang indah. Hari ini saya akan memilih salah seorang di antara kalian sebagai kaisar!”

Tiba-tiba kaisar melihat Ling yang sedang bersembunyi di belakang dengan potnya yang kosong. Kaisar memanggilnya untuk maju ke depan. Ling sangat ketakutan. “Kaisar telah tahu saya gagal! Mungkin ia akan menghukum saya!” pikirnya.

Ketika Ling sudah di depan, kaisar bertanya siapa namanya. “Nama saya Ling”, jawabnya. Anak-anak muda lainnya tertawa dan mengolok-oloknya. Kaisar berseru agar mereka tenang lalu ia mengumumkan “Anda telah memiliki kaisar baru, namanya Ling!”

Semua orang tak mempercayainya. Ling tak berhasil menumbuhkan benihnya, bagaimana ia terpilih menjadi kaisar baru?

Kemudian kaisar berkata, “Setahun yang lalu, saya telah memberi pada kalian, masing-masing sebuah benih. Saya perintahkan pada kalian untuk menanam benih itu dan memeliharanya. Tetapi yang kuberikan pada kalian adalah benih yang telah dididihkan dan tidak mungkin tumbuh. Kalian semua, kecuali Ling, membawa tanaman yang telah berbunga. Ketika kalian mendapati benih kalian tidak tumbuh, kalian lalu menggantinya dengan benih lain. Ling satu-satunya yang dengan berani dan jujur membawa pot dengan benih yang saya berikan. Maka ia pantas menjadi kaisar baru!”

Sumber: Dr. Sudarmono, (2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi

Idea Press, Yogyakarta. Hal. 159-161. ISBN 978-6028-686-402.

***

SELUSIN PERTANYAAN

1.Mengapa kisah di atas dibuat terlalu sederhana?

2.Haruskah Ling bersedia menjadi kaisar baru ataukah ia berhak memiliki pilihan lain?

3.Tidakkah akan lebih mudah baginya menjadi rakyat jelata di negeri lain ketimbang harus menjadi kaisar dan berusaha menyembuhkan masyarakat yang sakit parah itu?

4.Jika Ling punya pilihan, mana yang harus dipilih? Yang lebih mudah ataukah yang maha berat tanggung jawabnya?

5.Jika Ling menolak menjadi kaisar, sanggupkah masyarakat yang sakit parah itu menyembuhkan diri mereka sendiri tanpa bantuan Ling?

6.Siapa yang salah sehingga masyarakat Ling menderita sakit separah itu? Masyarakat, kaisar sendiri, ataukah keduanya?

7.Jika kemudian Ling bersedia menjadi kaisar tetapi gagal menjadi pemimpin yang sehat dan menyehatkan, siapa lagi yang akan disalahkan? Ling, masyarakat, ataukah kaisar sebelumnya?

8.Akankah Ling mendapat penghormatan dari masyarakat yang sejak awal telah meremehkannya?

9.Jika kondisi semakin parah, apakah masyarakat akan mengenang kembali masa-masa stabil selama kepemimpinan kaisar sebelumnya tanpa pernah menyadari (mengakui?) bahwa mereka sendiri turut berperan (sangat?) aktif dalam memperparah penyakit akut itu?

10.Jika wabah dalam masyarakat itu justru ditularkan oleh kaisar kepada masyarakatnya, pantaskah ia dan keluarganya seenaknya mencuci tangan dan menyerahkan semua tanggung jawab untuk menyembuhkan masyarakat ke pundak Ling? Sementara ia sendiri hanya dikenang sebagai pahlawan berjasa yang dosa-dosanya telah ditebus oleh jasa-jasanya?

11.Adakah kita dalam kisah di atas? Jika ada, siapa? Kaisar, Ling, ataukah masyarakat yang sakit itu?

12.Haruskah setiap penulis selalu memberi jawaban sehingga (kadang/sering) terlalu sok tahu, serta tak boleh ikut bingung dan bertanya?

Arsip: http://politik.kompasiana.com/2011/02/07/sebuah-kisah-selusin-pertanyaan/